Monday, May 9, 2016

Belajar dari Senior


Dr.Ir.H. Dwi Soetjipto, M.M. Dirut Pertamina 













Belajar dari Senior


Kolom@shofwankarims

Motivasi kehidupan boleh datang dari semua penjuru angin.  Seorang Dr. Ir. Dwi Soetjipto, MM, termasuk salah satu penjuru angin itu. Sebagaimana dilaporkan

Dari sekian definisi motivasi, saya tertarik salah satu di antaranya. Misalnya, motivasi adalah kekuatan tersembunyi di dalam diri kita yang mendorong kita untuk berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khas (Davies, Ivor K : 1986).

Sejauh pengamatan penulis kolom ini, yang amat-amat terbatas, Pak Dwi, begitu biasanya kita memanggil tokoh ini, selalu bertindak dengan cara yang khas.

Di antaranya ketika  menghadapi teman-temanya, atau lebih tepat orang yang dia kenal. Beliau amat rendah hati. Ini perlu ditekankan, bukan rendah diri. Karena beliau mempunyai percaya diri yang sempurna.



Rendah hati mendengarkan. Rendah hati memberikan respon. Bila ada masalah yang disampaikan kepadanya, beliau rendah hati menyampaikan solusi.

Kombinasi sinerjetik filosofi budaya Minang dan Jawa  sepertinya menjadi sintesa bagi perangkat motivasi bagi Pak Dwi.

Pada bebapa kesempatan beliau sering mengutip adagium Minang. Tahu di kato “nan-ampek” (kata yang empat; kata mendaki, menurun, mendatar dan menyamping/melereng). Tahu “jo ereang jo gendeang” ( memahami kiasan). “Alun bakilek alah bakalam. Takilek ikan di dalam aie, alah tantu jantan batinonyo” (belum disampaikan oleh pihak lain tentang sesuatu, beliau sudah tahu latar-belakangya).

Motivasi kepemimpinan yang sudah kita kenal, “ing ngarso sung tulodo, ing madio mangun karso dan tut wuri handayani (di depan menjadi teladan, di tengah  membangun semangat kerja, di belakang mendorong dan membimbing) tentulah dikombinasikan dengan “pemimpin di tinggikan seranting dan didahulukan selangkah”.

Sepertinya oleh Pak Dwi keunggulan budaya kepemimpinan Jawa-Minang  itu mendapat mata air dan disinerjikan lagi  kepada apa yang disebut sebgai budaya lokal Afrika yang disebut mojo.


Oleh Pieter P Gero, Kompas, edisi Senin, 11 November 2014, dikatakan kata mojo berasal dari Afrika, tetapi menjadi kosakata bahasa Inggris seiring perkembangan dunia perbudakan di Amerika Serikat pada tahun 1560-an. Mojo semacam kekuatan supranatural yang bisa memberikan kesaktian, keberuntungan, bagi pemiliknya. Mojo, juga berupa ramuan yang bisa diminumnya. Dalam kepemimpinan, mojo berada dalam diri setiap orang.

Setiap cerita keberhasilan, kesuksesan, atau aksi-aksi cemerlang dari setiap pemimpin pada level apapun merupakan mojo. Pakar kepemimpinan Marshall Goldsmith menegaskan, mojo merupakan sikap atau semangat positif yang muncul dalam kegiatan yang dilakukan setiap orang, terutama para pemimpin. Semangat ini dimulai dari dalam diri dan akan terpancar keluar.

Di dalam bukunya Road to Semen Indonesia: Transformasi Korporasi, Mengubah Konflik Menjadi Kekuatan ,  Pak Dwi seakan amat dominan menghidupkan tarikan nafas kepemimpinnya menggunakan  teori motivasi tadi.

Dr. Ir. H. Dwi Soetjipto, MM dengan kain di leher


Pak Dwi dengan cara yang amat khas, telah melakukan dan akan terus melaksanakan  segala upaya untuk mencapai hasil yang amat spetakuler untuk bangsa. Pak Dwi mampu mengeksplorasi molekul dan atom mojo di dalam lubuk semangatnya yang dalam untuk mengubah sesuatu kepada yang lebih cemerlang.



Beliau tidak mempedulikan hal-hal kecil yang kadang kala tidak kondusif dan tidak sinkron dengan pemikirannya. Akan tetapi tetap konsisten dan konsekuan untuk melakukan perubahan kepada yang lebih baik dan lebih besar.


Perangkat memotivasi yang khas, rupanya bukan hanya di dalam pemikiran dan manjanemen strtegis yang beliau kuasai secara praktik, tetapi juga akademik.  Menjadi CEO seperti yang sudah disebutkan tadi sejalan dengan teori akademik yang di dalaminya ketika menyelesaikan doktoralnya di Universitas Indonesia.


Di tengah kesibukan, bagaimana Pak Dwi bermain musik, bernyayi dan berolahraga dengan rekan, sahabat, dan stafnya. Ketawa lepas dan menyatakan pikiran dengan lugas tetapi  membuat kawan dan lawan menjadi nyaman adalah cara motivasi yang amat mengena. Itu ada di dalam keseharian Pak Dwi.

Sebagai CEO senior di deretan perusahaan nasional dan bahkan multi-nasional seperti Pak Dwi, tentulah menjadi sumber helaan nafas pengabdian dan karir bagi para yunior.  Beliau adalah “sesuatu banget”.***