Thursday, November 24, 2016

Shalat Jumat di Masjid Ottawa





Masjid OMA (Ottawa Muslim Association), Feb 20, 2015


Shalat Jumat di Masjid Ottawa

Oleh Shofwan Karim


Haedar (18) mengajak saya Shalat Jumat di Masjid Asosiasi Muslim Ottawa. Pada 1984, saya hanya ambil foto di luar. Ketika itu ditemani diplomat KBRI Ottawa, Husni Sungkar, ipar atau suami kakak Menteri Pendidikan dan Kebudyaan sekarang.

Haedar adalah putra kedua Dubes RI untuk Kanada dan merangkap pimpinan Aviasi Indonesia PBB di Montreal. Haedar sedang persiapan kuliah di Ottawa. Dia akan mengambil Ilmu Politik. Karena itu sebagaimana lazimnya di Kanada, remaja akan kuliah masuk kelas persiapan dulu.


Dia berpikir akan mengambil kuliah di Univeristas Ottawa atau Universitas Carlton. Yang disebut kedua adalah tempat kuliah Dr. Dino Pati Jalal, Mantan Dubes RI di Amerika tempo hari.

Basis kehidupan

Perasaan saya Masjid OMA (Ottawa Muslim Association) ini sebesar Masjid Kampus UNP di Air Tawar Padang. Ketika Khatib naik Mimbar, cara khutbah dan kemudian belakangan shalatnya sama dengan kita di Padang. Tentu saja dalam Bahasa Inggris. Kecuali kutipan ayat dan hadis.


Bedanya tentu jemaahnya. Di Padang tidak lazim wanita ikut shalat Jumat. Di masjid OMA ini pada lantai 2 ada puluhan ibu-ibu dan wanita muda yang menjadi jemaah.

Khutbah khatib fokus kepada pentingnya memelihara kekuatan keluarga. Keluaga adalah basis kehidupan. Kasih sayang suami isteri. Tanggungjawab terhadap anak oleh kedua orang tua. Didahului oleh saling cinta antara suami-isteri padat, kekal dan saling memahami.

Berawal dari kutipan Surat al-Rum 21, khatib mengingatkan tanpa keluarga yang kokoh dengan kasih sayang paripurna, kehidupan akan porak poranda. Saya ingat teman-teman di Kanada, banyak yang mengalami perpisahan setelah anak tumbuh bahkan dewasa.

Baik mereka yang kawin sesama orang di Kanada, maupun yang kawin silang dengan orang Indonesia. Tentu tak kurang pula yang abadi dan kekal.

Imam Samy Metwally yang dikontrak oleh OMA utk 4 tahun adalah tamatan Uiversitas Al-Azhar Mesir, penerima beasiswa Full Bright Hartford Seminary dan Universitas Negeri Arizona, AS. Imam dengan 5 rang putra putri itu ahli dalam studi syariat Islam, juga pakar hubungan Islam dan Kristen.

Status dan fungsi Imam amat strategis. Dia menjadi imam shalat, khatib dan memberikan pelajaran keislaman. Lebih dari itu yang berhak menikahkan pasangan muslim dengan memberikan sertifikat. Sebagai dasar penegakan syariat Islam basis keluarga utama syah sebagai pasangan muslim-muslimah.

Dengan sertifikat itu pasangan tersebut barulah mendaftar di catatan sipil pemerintah untuk disyahkan sebagai pasangan resmi diakui negara.

Masjid kedua

Masjid OMA adalah yang kedua berdiri pada 1962 dan selesai 1965. Sedang masjid pertama didirikan oleh Masyarakat Muslim Ottawa di tempat lain pada 1940. Di Ottawa ada 12 buah masjid. Inilah penampung kegiatan ibadah untuk sekitar 80 ribu muslim-muslimah di Ottawa yang sekarang berpenduduk lebih kurang 1 juta jiwa.

Masjid OMA didirikan atas inisiatif pertama datang dari ayah Mohamed Ghadhan. Keluarga muslim sunni dari Lebanon. Mohamed Ghadban kini menjadi Presiden Direktur untuk jangka waktu sampai 2016. Dia didampingi 7 anggota direksi, 2 sekretaris, keuangan dan 8 wali amanat serta 1 ketua kemite kerjasama.

Menurut Anis Chamseddine, Presiden OMA sebelumnya dan sekarang menjabat Wakil Peresiden, OMA menjadi pusat komunitas muslim di Ottawa. Oleh karena itu, OMA bukan saja pusat pembinaan internal umat Muslim, tetapi juga pusat hubungan Muslim dengan agama dan komunitas lain.


OMA bahkan menjadi tepat utama pemerintah Ottawa khususnya dan Kanada umumnya untuk berkoordinasi dan konsultasi. Karena itu kalau ada sesuau yang menggembirakan OMA menjai perwakilan.


Sebaliknya bila ada sesuatu yang menjadi masalah, OMA pula tempat mereka meminta pendapat dan kadang-kadang minta pertanggungjawaban. (*/Bersambung)


*) bagian7, perjalanan ke Kanada Februari 2015

Baca Juga Berita Terkait dengan Artikel ini :


Poros Utama dan Aura Baru


Dorongan dari Dubes RI di Ottawa


Indonesia World Youth, Optimisme?


Perlakuan Sama dalam Mendapatkan Pekerjaan





Multi Kultural dalam Badai Salju